Cambridge small
 Edexcel-small
 Pearson logo small
 BTEC small    LCCI 150l

Pengumuman Kelulusan SMP Tahun Ajaran 2016/2017

(Klik pada gambar untuk membaca selengkapnya)

Surat Keputusan Kepala SMP

Lampiran 

Daftar Nama Peserta Ujian Nasional 

 

SK Kelulusan SMP 2016-2017

Lampiran kelulusan siswa 2016-2017 - ALampiran kelulusan siswa 2016-2017 - BLampiran kelulusan siswa 2016-2017 - C

Guru Mesti Berkesadaran ‘Kosmologis – Semesta’

Yohannes Jemakir: Guru Mesti Berkesadaran ‘Kosmologis – Semesta’

Jakarta, LINK—Sebagai pendidik sekaligus pengajar, seorang guru selayaknya mampu mentransformasi kesadaran siswanya dalam hal spiritual, mental, pengetahuan, sosial dan budaya, sebagai seorang manusia seutuhnya. Untuk itu, guru ideal mesti mumpuni, berkesadaran penuh, berkarakter kuat dan terpuji, di samping mesti menguasai dengan baik ilmu pengetahuan yang diajarkannya. Pepatah latin mengatakan ‘nemo dat quod non habet’ yang artinya tidak seorang pun memberikan dari apa yang tidak dimilikinya.
“Guru yang tak memiliki karakter terpuji dan tak menguasai penuh pengetahuan yang diajarkannya takkan mampu mentransformasi kesadaran dan ilmunya kepada subjek didiknya. Karena sebagai manusia yang akan dimanusiakan sepenuhnya, seorang siswa memiliki dimensi kognitif, afektif, dan konatif/psikomotorik dalam sistem kesadarannya. Guru sebagai pendidik sekaligus pengajar, semestinya mampu menumbuhkembangkan ketiga aspek kepribadian siswanya,” kata Bapak Yohannes Jemakir, Asisten Direktur Bidang Pendidikan Sekolah Jubilee Jakarta saat memberikan pembekalan di hadapan staf dan guru-guru baru Sekolah Jubilee, pada kegiatan “Orientasi Guru dan Staf Sekolah Jubilee 20014”, pada 7 Agustus 2014, di Ruang Serba Guna, lantai 8, Sekolah Jubilee.
Mengutip filsafat ajaran luhur dari pujangga Mataram Ronggowarsito dari Serat Aji Pamasa-nya, Yohannes Jemakir mengatakan seorang guru sebagai seorang pendidik seyogyanya bisa "ngerti", "ngroso", "nglakoni" (memahami, merasakan, melakukan). Pendidikan kita saat ini cenderung mereduksi proses pendidikan yang hanya sekedar sebagai proses "ngerti". Pengurangan atau pengabaian pendidikan moral/budi pekerti, seni, olah raga, sastra yang terjadi justru akan bisa meminimalisasi bahkan menghilangkan proses "ngroso". Dan lembaga pendidikan atau sekolah kita, juga tak menghargai – kurang memberi ruang untuk "nglakoni" (mempraktekkan dan mengalami), khususnya dalam bidang agama, sosial, budaya, ekonomi dan hukum.
“Yang kita ajarkan di bangku sekolah atau pun kuliah realitanya sering bertentangan di ruang kehidupan yang sebenarnya. Seperti nilai-nilai mulia kehidupan pada semua mata pelajaran dan Pancasila atau pada Pendidikan Kewargaan Negara (PKN), yang kita ajarkan di ruang kelas/kuliah, pada realitas nyata justru yang disaksikan subjek didik dalam ruang kehidupan nyata adalah perilaku kekerasan, ketidakjujuran, budaya KKN, materialisme, hedonisme, pragmatisme oportunis, kemunafikan, ketidakadilan, kemiskinan, diabaikannya hak-hak asasiah kewargaan dari rakyat kebanyakan dan lain-lain,” tegas Yohannes.
Kesadaran ‘Semesta-Kosmologi’ dalam ‘Hastabrata Guru’

Lebih lanjut menurut Yohannes Jemakir, sebagai seorang pempimpin pada lingkungan pendidikan, guru juga harus memiliki kesadaran kosmologis, atau memiliki ‘karakter semesta’ dengan 8 elemennya yang dikenal sebagai “Hasta Brata Guru”. Seorang guru yang luhur dan mulia memiliki ke-8 elemen ‘karakter semesta – Hastabrata guru’ yang meliputi:
1.SURYA atau MATAHARI – adalah watak guru harus mampu menerangi ruhani dan kehidupan seluruh siswanya. Seperti matahari menerangi dan memperlakukan segenap penghuni planet, seorang gurus harus mampu memperlakukan seluruh siswanya dengan sama tanpa membeda-bedakannya serta mampu memberi energi kehidupan bagi siswa-siswanya.
2. CANDRA atau BULAN– Sebagaimana bulan yang menerangi kegelapan, guru harus mampu memberi penerangan bagi siswa-siswa yang dalam kegelapan/ketidaktahuan, jangan sampai guru malah menambah kegelapan batin yang ada pada siswanya. Selain itu seperti bulan yang memiliki sifat lembut yang menenteramkan, guru yang bijak selalu memberikan rasa tenteram dan aman kepada siswa-siswanya.
3. SUDOMO/KARTIKA atau BINTANG– Bintang walaupun terlihat kecil di langit namun bisa menjadi petunjuk/panduan/arah bagi para musafir dan nelayan, begitupun guru harus mampu menjadi penunjuk arah yang baik dan benar bagi siswa-siswanya, seperti dalam memilih jurusan serta minat keterampilan yang tepat baik siswa-siswanya, selain itu guru juga mesti memiliki visi dan mampu menyelami batin/perasaan murid-muridnya.
4.MARUTO atau ANGIN – watak angin memberi kesejukan atau kesegaran, jika siswanya suntuk/tertekan/jenuh/bosan guru harus bisa berperan sebagai penyejuk dan penyuntik enerji/semangat yang menyegarkan. Angin/udara memiliki sifat yang memberikan ruang kehidupan bagi segenap manusia, tidak pilih kasih, seorang guru harus mampu memberikan kebebasan kepada murid-muridnya untuk kreatif, mengemukakan pendapat dan merealisr ide-idenya.
5.TIRTA atau AIR. Air lambang kehidupan, seperti pada Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, seorang guru haruslah mampu menghidupkan/membangunkan raga sekaligus jiwa siswa-siswanya. Sifat air juga menyegarkan, guru harus mampu mengondisikan pikiran dan fisik siswanya agar selalu tetap segar. Air juga bermakna keselamatan, Nabi Nuh dengan air bahnya, menyelamatkan umat nabi Nuh dan penghuni alam dari sistem penindas yang zalim dan kejam. Juga Nabi Musa yang membelah air lautan untuk menyelamatkan kaumnya dari Sistem Penindas Raja Fir’aun yang Lalim dan Tiran. Watak Guru harus selalu mengalir dinamis dan memiliki watak santun menyelaraskan diri dan rendah hati seperti air.
6. MEGA atau AWAN. Awan meskipun gelap memberikan harapan akan datangnya harapan, rahmat atau hujan. Seorang gurus haruslah mampu menanamkan sikap optimis, penuh harapan akan masa depan yang cerah pada siswa-siswanya.
7. DAHANA atau API. Guru harus memiliki sifat menumbuhkan semangat yang berkobar-kobar agar mau maju, bekerja keras untuk belajar, tumbuh, berkembang dan memiliki kebutuhan untuk meraih prestasi yang tinggi. Api juga berarti keberanian, guru harus mampu memotivasi siswa-siswanya untuk berani mengambil inisiatif, resiko dan menghadapi apapun tantangan dalam menghadapi berbagai gelombang fenomena kehidupan.
8. PRATALA atau BUMI. Watak bumi rendah hati, tenang dan siap menerima dengan suka cita apapun perlakuan yang datang kepadanya. Selain itu watak bumi juga menumbuhkan segala benih yang jatuh kepadanya, sehingga guru harus senantiasa dengan tak bosan-bosannya memberikan ilmu dan pengetahuannya untuk menumbuhkembangkan kepribadian siswa-siswanya.

“Guru Menjadi Gembala Baik yang Murah Hati”
Pada bagian akhir pemaparannya, Yohannes Jemakir membabarkan, seperti para nabi dan rasul, yang sejatinya adalah guru dan pembawa Jalan Keselamatan umat, guru selayaknya memiliki kesadaran spiritual sebagai “PENGGEMBALA BAIK YANG MURAH HATI” bagi para siswa-siswa sebagai subyek didiknya, yaitu memiliki semangat atau sikap sebagai berikut:
i) Visioner dan misioner
Guru mesti memiliki visi yang selalu memandang jauh ke depan, melampaui era atau zamannya. Jika tidak visoner dan misioner guru takkan bisa mengembangkan dan mengaktualkan dirinya, selanjutnya juga takkan membuatnya mampu bertahan, karena profesi guru merupakan profesi yang paling sulit berubah.
ii) Peduli
Guru mesti menjadi pribadi yang peka, tanggap, solider, dan empati terhadap proses tumbuh kembang siswa-siswanya serta tanggap perkembangan pesat pada lingkungan kehidupannya.
iii) Integritas
Guru memiliki pribadi yang rendah hati, kredibel, akuntabel, transparan/terbuka dan setia dalam amal bakti – pengabdian pendidikannya.
iv) Kompeten
Guru menjadi pribadi yang mengabdi pada jalan perjuangan pendidikan dengan bangga, penuh tanggung jawab, menjalankannya dengan serius, dan terus menerus mengembangkan dirinya agar selalu aktual secara profesional.
v) Bersaudara
Guru memiliki pribadi yang selalu mengedepankan sikap plural, inklusif, demokratis, adil dan berbudaya dalam pengabdiannya pada dunia pendidikan.
vi) Beriman
Guru mengorientasikan seluruh karya perjuangannya pada dunia pendidikan dalam rangka berhikmat-membaktikan dirinya bagi memuliakan nama Tuhan, melaksanakan kehendak-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam menegakkan serta membangun Tata Peradaban Orde Sosial-Nya di muka bumi. (Ab/JMC)

Language Switcher

Morning Notes

Jubilee School

Jl. Sunter Jaya 1 No. 1, Sunter Agung, Jakarta Utara

ph. +6221-65300300, Fax. +6221-65300800

Joomla templates by Joomlashine