Cambridge small
 Edexcel-small
 Pearson logo small
 BTEC small    LCCI 150l

Pengumuman Kelulusan SMP Tahun Ajaran 2016/2017

(Klik pada gambar untuk membaca selengkapnya)

Surat Keputusan Kepala SMP

Lampiran 

Daftar Nama Peserta Ujian Nasional 

 

SK Kelulusan SMP 2016-2017

Lampiran kelulusan siswa 2016-2017 - ALampiran kelulusan siswa 2016-2017 - BLampiran kelulusan siswa 2016-2017 - C

KISAH SEPERTIGA SUKSES SHANDY

Hari itu, 27 Juli 2013, ia menginjakkan kaki di Nanyang Technological University, Singapura. Tak pernah terpikir sebelumnya ia bisa mengenyam pendidikan di universitas bergengsi ini. Namun, prestasi yang dicapainya ini tidak instan, melainkan meelalui perjuangan keras. Bukan hanya keras dalam belajar, tapi keras dalam mengatasi hidupnya yang pahit. Ada kisah panjang ke belakang.

Krisma Shandy Komaruzzaman. Usianya baru 22 tahun. Berasal dari satu Kabupaten di ujung Pulau Jawa Timur, Bondowoso. Salah satu kabupaten termiskin di Indonesia. Perjalanan kesuksesannya bermula ketika hatinya terhenyak mendapat nilai matematika yang sangat buruk. Sebenarnya, ia tak perlu kaget. Sebab, oleh gurunya track recordnya di sekolah memang di kategorikan biasa-biasa saja, bahkan mengarah ke nakal. Beberapa kali ia ditegur wali kelas. Semua mafhum, murid yang tak nakal saja susah bukan kepalang untuk dapat nilai bagus untuk mata pelajaran ‘horor’ itu (matematika), apalagi yang punya label nakal.

Meski terkesan ‘buruk rupa cermin dibelah’, tapi entah apa sebabnya hari itu Shandy tiba-tiba tak bisa menerima kenyataan bahwa nilai mata pelajaran matematikanya mengenaskan. Marah bercampur marah, hasilnya ‘dendam’. Dendamnya berakumulasi menjadi motivasi. Energinya untuk menaklukkan matematika tak terbendung. Mulai saat itu, dia mulai belajar matematika sekeras-kerasnya. Semua jatah ‘main di luar’ ia konversikan untuk belajar matematika. Ia total berenang di lautan ilmu al jabar itu. Ini memang kelebihannya: jika punya ingin, pantang surut ke tepian.

Kerja keras Shandy belajar matematika mulai kelihatan kuncupnya. Nilai raport matematikanya melesat naik, mengalahkan yang lain. Gurunya terkaget-kaget. Suatu hari, ia didelegasikan menjadi perwakilan sekolah mengikuti lomba matematika Tingkat Kabupaten. Juara? Gagal total. Teryata, memenangkan lomba tak semudah yang ia bayangkan. Menaklukkan matematika tak bisa sekejap mata.

Tapi, kekalahan di lomba itu justru membuatnya panas. Semakin gagal, ia semakin ingin sukses. Shandy semakin penasaran untuk menaklukkan matematika. Tak lama setelah itu, kembali ia ikut lomba serupa. Sukses? Gagal (lagi)! Darahnya mendidih. Ia naikkan durasi belajar matematikanya. Setiap hari Shandy kerumah guru matematikanya: pukul 13.00-22.00. Khusus hari Minggu: pukul 08.00-22.00. Tiada hari tanpa matematika.

Melihat semangat muridnya yang nonstop, sang guru salut bukan main. Maka, dengan sekuat tenaga sang guru menempa potensi matematika dalam diri Shandy. Ia yakin, muridnya yang satu ini memiliki mutiara kecerdasan yang selama ini tak terasah. Perlahan namun pasti, Shandy semakin lihai memecahkan misteri rumus. Makin jenius memainkan angka. Dan akhirnya, tantangan tingkat Kabupaten yang dulu gagal dilalui, sukses dilewatinya. Shandy juara pertama.

Sejak itu, prestasi matematikanya seperti tenaga Turbo, melesat cepat. Inilah sebagian deretan medali Matematika yang berhasil direbutnya: juara 1 matematika se-Jawa dan Bali, Juara 2 di Italia, medali perak dan perunggu matematika international di Afrika Selatan, juara 1 pemrograman seindonesia, juara 1 national logic competition, juara 2 matematika nasional, dan masih banyak lagi.

Sampai disinikah kisah sukses Shandy? Tidak! Itu baru “duapertiga” (2/3) kisah sukses Shandy. Ini “sepertiga” (1/3) yang terakhir kisah suksesnya.

Hari itu, Shandy dibekap dilema. Ia baru lulus Sekolah Dasar Dabasah 1. Ada dua pilihan menantinya: melanjutkan ke Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) atau program reguler. Program RSBI tentu menjadi idaman setiap siswa, termasuk Shandy. Karena di program itu, talentanya di bidang matematika akan lebih terasah. Namun, ada satu kendala klasik menghadang Shandy: biaya. Orangtuanya bukan keluarga berada. Ayahnya pegawai (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) SPBU. Ibunya di rumah saja. Masuk RSBI butuh biaya besar. Sementara untuk makan saja repot. Shandy tidak berani bermimpi untuk masuk RSBI, meski prestasinya menjanjikan.

Tapi, lain bagi orangtua Shandy. Mereka merasa sangat berdosa jika anaknya yang berotak cemerlang tak mendapatkan pendidikan yang seharusnya. Sayang, jika potensinya tak terasah. Orangtua Shandy sadar, di negeri ini pendidikan berkualitas masih harus di bayar mahal. Tak ada pilihan ketiga, hanya dua pilihan: ada uang, ada RSBI; tak ada uang, tak ada RSBI. Shandy sendiri, sejak awal menyadari kondisi ini. Ia tak memaksa pada orangtuanya. Ia bertekad memaksimalkan program reguler untuk meningkatkan talenta matematikanya.

Betapa kagetnya Shandy, ketika hari itu ayahnya tiba-tiba membawa “formulir” pendaftaran masuk RSBI. Semua syarat pembiayaan sudah di lunasi. Shandy tinggal menjalankan tugasnya: belajar giat. Sepanjang Shandy belajar di program RSBI, ayahnya bekerja lebih keras memenuhi biaya sekolah Shandy. Tak peduli seberapa sulitnya, ayahnya tetap bertekad mendukung kesuksesan anaknya. Kesempatan itu tak di sia-siakan Shandy. Ia “peras” potensi al jabarnya hingga tetes darah terakhir. Malu dia jika kerja keras ayahnya tak di balas dengan prestasi. Seluruh energi ia curahkan untuk menajamkan nalar matematikanya. Dan seperti terdaftar diatas, sederet prestasi ditorehkannya.

Yang paling membanggakan Shandy, sepulang mengantongi medali Perak pada Olimpiade Internasional di Italia, ia dan kedua orangtuanya disambut meriah oleh Bupati Bondowoso dan masyarakat setempat. Ia jadi kebanggaan masyarakat, bahkan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Orangtua Shandy “terbang” setinggi langit. Serasa menjadi orangtua paling bahagia di dunia. Prestasi anaknya telah mengangkat derajat keduanya ke posisi yang sangat terhormat. Kerja keras keduanya terbayar lunas dengan sebuah kebanggaan dan kehormatan. Tak sia-sia keduanya berjuang keras untuk pendidikan anaknya.

Peran orangtua Shandy adalah sepertiga (1/3) dari kunci kesuksesan anaknya itu. “Tanpa mereka, saya tak akan sampai di Singapura. Meski diterpa kesulitan hidup, mereka tetap memperjuangkan pendidikan berkualitas buat saya”, kata Shandy. Benar, tanpa perjuangan kedua orangtuanya, perjuangan Shandy sia-sia belaka. Berapa banyak anak jenius dan berbakat gemilang hilang di telan zaman, disebabkan karena kedua orangtuanya tak peka untuk memberikan yang terbaik bagi anak mereka. Berapa banyak anak dari keluarga kaya yang sebenarnya berintelegensia cemerlang, namun masa depannya suram karena orangtuanya membimbing anak mereka. Orangtua Shandy bukan keduanya. Bukan orang kaya yang salah mengasuh anaknya. Bukan juga orang miskin yang meratapi nasib dan menelantarkan potensi akademik anaknya. Dalam lilitan kesulitan ekonomi, orangtua Shandy tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk masa depan anaknya.    

Kesuksesan Shandy perpaduan apik tiga peran: “sepertiga”(1/3) adalah hasil keras Shandy sendiri, “sepertiga”(1/3) adalah peran besar sang guru, dan “sepertiga”(1/3) adalah jasa mulia kedua orangtuanya. Sinergi peran ketiganya menghasilkan kesempurnaan “angka” kesuksesan Shandy, yaitu 3/3 (1). Jika satu saja peran hilang, kesuksesan tidak akan mencapai angka sempurna, yaitu 1 (satu).

Ingat jawaban Thomas Alva Edison ketika ditanya apa kunci suksesnya menjadi ilmuwan jenius penemu listrik? “My mother was the making of me. She was so true, so sure of me, and I felt I had someone to live for, someone I must not disappoint”Dari sejarah kita tahu bahwa Edison kecil sebenarnya mengidap Learning Disable. Penyakit itu membuatnya dipecat dari sekolah, karena dianggap idiot. Nancy Alliot, ibunda Edison, tetap yakin bahwa anaknya punya potensi tersembunyi yang tak dilihat gurunya di sekolah. Dengan telaten dan sabar, Nancy mengajari Edison di rumahnya. Nancy menjalankan tiga peran sekaligus, yaitu sebagai “sekolah”, guru, sekaligus orangtua bagi Edison. Kisah Edison inspirasi tentang pentingnya peran orangtua bagi pendidikan anak.

Sukses Shandy juga sangat ditentukan oleh peran kedua orangtuanya. Jika bukan karena keyakinan dan kerja keras mereka, Shandy tak akan pernah menginjakkan kaki di landasan kesuksesan.

Setelah bertahun-tahun, ada satu hal yang membuat Shandy masih sangat penasaran, yaitu dari mana kedua orangtuanya memperoleh uang untuk membiayai sekolahnya di RSBI. Suatu hari, ia pernah bertanya soal itu kepada ayahnya. Ayahnya menjawab: “Uang itu didapat dari menjual rumah kita. Kami pertaruhkan rumah, demi masa depanmu. Tapi, kini prestasimu membuat kita memiliki rumah yang baru dan ‘rumah’ kebanggaan”. Memang benar, “buah” pendidikan selalu manis, dan baru bisa di petik di masa depan. (Fatimah)

Language Switcher

Morning Notes

Jubilee School

Jl. Sunter Jaya 1 No. 1, Sunter Agung, Jakarta Utara

ph. +6221-65300300, Fax. +6221-65300800

Joomla templates by Joomlashine