Morning Notes

News Letter

Stimulasi Belajar untuk Anak Usia Dini

Jakarta—Sampai usia 5 tahun sebagai  ‘Golden Age’,  anak  bukan harus belajar membaca dan menulis, tapi hanyalah bermain dan dari bermain dia belajar.

Bermain dalam suasana riang dan tidak stress, belajar nilai-nilai kehidupan dari yang paling sederhana berinteraksi dengan teman,  menyentuh-mengenal bentuk dan warna, sampai yang rumit mengenal huruf, angka dan membaca  melalui bermain.  

“Dari sinilah, berlaku prinsip anak bukan untuk diajar baca tulis, tapi distimulasi. Lewat ‘Brain Gym’ yang pertama adalah sensori. Fungsi batang otaknya harus distimulasi, mulai belajar ‘Bad Touch dan Good Touch’.   Kita bisa mulai melalui  media gambar yang sering dipakai orang untuk mendeteksi problem anak.  Guru harus waspada dari gambar-gambar anak. Misalnya mereka kenapa lebih memilih gadget, karena sebenarnya mereka stress. Dengan bermain game/gadget mereka  bisa survival,  karena  game menurut dengan mereka. Visual,   auditori dan kinestetik terakomodasi  secara penuh.  Sedang dimata mereka orang tua kurang gaul dan kekinian,” kata psikolog sekaligus ahli hipnoterapi  Lucy Santioso, yang sering dipanggil Bunda Lucy dalam Seminar & Workshop “Membangun Karakter & Potensi Anak Usia Dini untuk Guru PAUD di Wilayah Provinsi DKI Jakarta”, pada 31 Agustus 2017, di ruang Multi Purpose Room lantai 6, gedung Sekolah Jubilee. 

Masih menurut Bunda Lucy, kita sering memaksa anak belajar sesuai dengan tuntutan masyarakat padahal sebaiknya berdasarkan panggilan kecerdasan dan minat mereka. Seperti penekanan pada keberhasilan belajar  terletak pada lingiuistik/bahasa dan matematika.  Pada akhirnya 97%  anak-anak gagal memilih profesi yang sesuai dengan minat mereka, hanya 3% saja yang sukses bekerja  sesuai dengan jurusan yang mereka pilih pada pendidikannya.  Beberapa game dimainkan Bunda Lucy seperti bermain bola, melukis di papan, bernyanyi, gerakan cross crolle, bermain peran observasi, tepuk tangan, untuk mengaktifkan otak kiri- kanan, fokus, teratur, keseimbangan dan cara menarik  perhatian.    

Bunda Lucy yang pemilik  ‘Klinik Smart Talent’, menceritakan banyak jurus dalam menangani problem anak, utamanya anak-anak special need (berkebutuhan khusus). Dia belajar Brain-Gym untuk bisa mengontrol pikiran. Biasanya setelah berhasil ditangani, anak-anak special need menjadi terbuka indra keenamnya atau bisa mendiagnosis penyakit hanya dengan menyentuh atau melihat sekilas. Setelah presentasi, dilanjutkan sesi tanya jawab seputar problem pendidikan anak-anak usia dini yang dimoderatori oleh Noval Kurnia, mantan artis cilik yang kini sudah dewasa.

Acara selanjutnya berupa Workshop Kreativitas Anak Usia Dini disampaikan oleh Kak Rizki Haryo, seterusnya pemaparan dari Tim Paintmate tentang teknik mewarnai dengan Silky Crayon dan dengan Finger Paint di Hall Sekolah Jubilee, lantai 8. Peserta dibagi ke dalam 12 kelompok untuk melukis koala dengan latar belakang pemandangan. 

Acara Seminar dan Workshop  ini terselengara berkat kemitraan Ketua Pusat Kajian Pendidikan dan Budaya Dewantara Bapak Tato Darmanto dan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara dengan sponsor Bank DKI, Florence Springbed, Blits, Tanoto Foundation, NDM Art, dan  Smart Talent. Acara di Jubilee School merupakanrangkaian program acara terakhir setelah sebelumnya bergulir di Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Tampak hadir juga pada acara tesebiy Ibu Wakil Walikota Jakarta Utara – Rita Susanti Junaedi, Kasudin Wilayah I Jakarta Utara Budi Sulistiono, Ibu Ida Farida Al Hadad – Ketua Harian Yayasan Citra Bangsa Mulia Sekolah Jubilee,  dan Bapak Yohannes Jemakir – Wakil Ketua Yayasan Citra Bangsa Mulia Bidang Akademis. Kabid PAUD DIkmas Dinas Pendidikan DKI Jakarta Bapak Fery Safaruddin berkenan memberikan Door Prize sekaligus menutup acara.  (Ab/Fth/JMC)

 

Jubilee School

Jl. Sunter Jaya 1 No. 1, Sunter Agung, Jakarta Utara 14350

ph. +6221-65300300, Fax. +6221-65300800

Joomla templates by Joomlashine